by AGIVE TRILESTARI

Amankah Bermain di Rumah Teman?

Amankah Bermain di Rumah Teman?
Apakah Anda orang tua yang merasa aman kalo anak anda berkunjung kerumah temannya atau tidak?
Saya termasuk orang tua yang protektif kepada anak anak apabila mereka berada diluar rumah selain disekolah.
Saya akan lihat keperluannya, kemana dan dengan siapa mereka ketika berada diluar rumah.
Dulu saya akan merasa aman apabila anak-anak saya berkunjung kerumah temannya, baik itu untuk tujuan hanya bermain atau dengan tujuan mengerjakan tugas, daripada mereka kumpul dimall atau cafe.
Tapi tidak dengan kondisi sekarang, setelah saya tahu ternyata dirumah temannya pun tidak ada jaminan kalo anak-anak akan aman apabila dirumah temannya tersebut tidak ada yang mendampingi atau mengawasi dirumah tersebut, walaupun anak-anak saya sudah memasuki usia remaja.
Terkadang orang tua merasa anak-anaknya sudah mulai besar, jadi menurut mereka anak-anak tersebut sudah mengerti dan sudah bisa dibebaskan, dilepas atau diberikan kelonggaran, padahal daripada anak usia Balita, usia-usia memasuki remaja-lah yang menurut saya harus ekstra kontroling, ekstra bimbingan serta extra diajarkan lebih bertanggung jawab dengan apa yang mereka lakukan terhadap dirinya sendiri ataupun orang lain.
Photo by roya ann miller on Unsplash
Karena usia remaja sudah mulai mengenal sosialisasi diluar rumah, pengaruh dari luar, pengaruh dari sosial media, juga pengaruh dari teman sebaya dll.
Anak memasuki usia remaja memang tidak bisa diajarkan dengan larangan. Mereka harus diberikan bimbingan, pengertian dengan cara diberikan contoh atau bimbingan melalui komunikasi yang baik, diberikan kemungkinan-kemungkinan yang efeknya akan berdampak buat dirinya sendiri. Biarkan anak-anak diberikan kepercayaan untuk melakukan sesuatu tetapi dengan pertimbangan dan dengan pemikiran tentang efek apa yang akan mereka dapat dari apa yang mereka kerjakan tersebut.
Karena usia remaja adalah usia dimana mereka akan explore diluaran dengan temannya, dimana berada diluar rumah dan berada diantara teman-temannya terasa lebih fun dan lebih menarik buat anak-anak usia remaja.
Usia remaja memang adalah saat dimana mereka mulai banyak bersosialisasi diluar rumah dengan teman sebayanya atau dengan orang yang membuat mereka lebih tertarik daripada dengan orang yang ada dirumah mereka.
Kenapa saya sekarang tidak merasa aman kalo anak-anak saya berada diluar rumah berkunjung kerumah temannya? Apalagi kalo dirumah temannya tersebut tidak ada yang mengawasi atau tidak ada orang dewasa yang mendampingi. Salah satunya adalah karena ada dari teman sekolah anak saya yang ibunya mengatakan kalo anaknya baru saja bermain kerumah salah seorang teman anaknya dan disana anak-anak melakukan semacam tantangan, buat lucu-lucuan, buat diupdate dan live di sosial media dengan melakukan sesuatu kegitan yang buat kita para orang tua itu membahayakan.
Tantangan yang mereka lakukan adalah dengan melompat dari bagian balkon lantai 2 rumah tersebut, melompat kebawah dengan berbagai macam gaya. Lalu ada salah satu dari mereka yang merekam untuk diupload ke sosmed dan live di sosmed.
Entah apa yang ada didalam pikiran mereka kalo hal berbahaya itu dilakukan tanpa pengaman apapun, yang membuat kami para orang tua hal tersebut jelas membahayakan dan konyol kalo terjadi apa apa.
Photo by Brandon Morgan on Unsplash
Dulu waktu saya masih kuliah ada seorang dosen saya yang berhenti mengajar pada saat anaknya memasuki usia remaja. Pada saat itu saya malah bertanya sambil berkomentar “Bu, bukankah anak-anak sudah mulai besar tapi kenapa ibu memilih untuk berhenti bekerja?”
Jawaban beliau adalah “justru disaat usia-usia sekarang saya sebagai seorang ibu harus lebih dekat dengan anak-anak harus lebih fokus menjalin komunikasi yang baik harus lebih extra controlling, extra bimbingan ke anak-anak, karena kalo saya tetap bekerja sulit bagi saya untuk bisa fokus ke anak-anak!”
Dan itu saya baru sadari setelah anak-anak saya mulai memasuki usia remaja, memang benar disaat usia-usia tersebut justru kita sebagai orang tua harus berusaha semaksimal mungkin, menjalin hubungan yang baik dengan anak dengan perhatian, bimbingan dan komunikasi serta kontroling semua aktifitas anak-anak.
Dan itu semua berbeda dengan pada saat mereka masih usia batita, balita dan anak anak.
Usia remaja tantangannya lebih hebat, godaan anak-anak usia tersebut lebih dahsyat.
Jadi saya sebagai orang tua harus lebih extra dalam segala hal dengan mereka karena dalam mendidik, membimbing berkomunikasi dan lain lain. Saya mau pegang sendiri, saya tidak mau mensubkon-kan ke orang lain, seperti sekolah yang katanya ber-basic agama supaya orang tua tidak terlalu capek lagi mengajarkan keanak-anak atau apalah, setiap orang tua pasti tahu yang terbaik untuk anak anaknya.
Buat saya orang tua-lah yang terpenting, orang tua-lah yang punya peranan vital dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap anak-anaknya. Sarana lain seperti sekolah atau apapun adalah tambahan saja. Karena seringkali saya mendengar orang tua mengatakan “kan sekolah udah ngajarin! Tugas sekolah lah yang harus menanamkan!”
Buat saya semua cikal bakal seorang anak akan seperti apa perilaku dan lainnya, ya dari rumah, dari orang tuanya, baik buruk anaknya itu semua atas dasar yang ditanamkan oleh orang tuanya dirumah, yang dicontohkan dan yang diajarkan oleh orang tuannya dirumah.
Saya mau anak anak saya akan bersikap dan berperilaku sama baik ketika ada orang tuanya atau sedang bersama orang tuanya, maupun pada saat sedang tidak dengan kami. Intinya jujur kepada kami orang tuanya.
Saya pernah mendengar ada pengajar bilang “bu, ada ya bu orang tua yang melihat gadget anaknya aja gak bisa dan gak berani!”, katanya anaknya pasti marah kalo orang tuanya lihat atau tahu pasword anaknya.
Saya heran dan bingung mendengarnya, kenapa orang tuanya takut kepada anaknya sendiri? Buat saya orang tua tersebut bodoh, orang tua kok takut sama anak??
Saya terhadap anak-anak soal gadget tidak ada rahasia sama sekali karena saya mencontohkan ke anak-anak mereka bisa pinjam dan bisa membuka gadget saya kalo mereka perlu atau mau melihat, karena memang digadget saya tidak ada sesuatu yang terlarang, tidak ada sesuatu yang rahasia, tujuan saya untuk memberikan contoh keanak-anak kalo dirumah ya tidak ada rahasia antara anak dan orang tua, semua terbuka asalkan dengan ijin dan sepengetahuan si pemilik gadget, hal ini semata mata untuk perilaku santun & sopan, makanya harus ijin.
Maka anak-anak saya pun demikian, gadget mereka bisa bebas kami lihat didepan mereka dan atas ijin mereka, malah mereka yang meminta saya untuk menyimpan sidik jari saya digadgetnya supaya saya bisa buka sendiri.
Malah kalaupun saya belum tau pasti mereka akan cerita ke saya apapun itu, baik itu sesuatu yang terbaru digadgetnya atau komunikasi mereka dengan teman-temannya atau apapun itu.
Photo by Myles Tan on Unsplash
Saya berusaha segala sesuatu diluaran tahu terlebih dahulu dari cerita anak-anak saya daripada tahu dari orang lain.
Karena sering kali saya dengar dan tahu orang tua mengatakan “kok saya gak tau ya!’ kalo dirumah gak begitu kok!, kok anak saya gak cerita ya!”
Itu semua ditanamkan ke anak-anak, dicontohkan, dibimbing dan komunikasi yang baik, terus dilakukan sekaligus kontroling kepada mereka.
Sampai saat ini setiap kali mereka ijin untuk kemanapun pasti mereka akan menanyakan kepada kami orang tuanya, apakah boleh atau tidak? setelah dapat jawaban dari kami barulah mereka akan menyampaikan ketemannya.
Setiap kali mereka ijin-pun saya pasti akan menanyakan apakah dirumah temannya tersebut ada orang tuanya, minimal salah satu dari orang tuanya. Kalo cuma supir atau asisten rumah tangga-pun saya tidak akan mengijinkan mereka kesana, kalo memang tidak ada salah satu dari orang tuanya.
Dan saya-pun biasanya akan komunikasi dengan orang tuanya kalo anak saya kerumah temannya tersebut.
Tujuannya supaya ada kontroling juga dari mereka, supaya ada kerja sama dalam membimbing dan mengawasi anak-anak.
Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa menjadi acuan kepada para orang tua untuk terus melakukan kontroling ke anak-anak nya terutama yang sedang memasuki usia remaja. Sampai saat inipun saya masih belajar dan terus belajar untuk selalu bisa mendidik, membimbing, berkomunikasi dan mengawasi anak-anak saya dengan tujuan mudah-mudahan anak saya bisa menjadi manusia berkualitas baik buat dirinya sendiri maupun dilingkungannya.
@agivetrilestari


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *