by AGIVE TRILESTARI

Gaya Kids Jaman Now Mengerjakan Tugas Kelompok

Gaya Kids Jaman Now Mengerjakan Tugas Kelompok
Apakah Tugas kelompok yang diberikan guru disekolah untuk dikerjakan diluar jam belajar disekolah anak anda sudah efektif dan sesuai harapan?
Sering kali guru disekolah memberikan tugas yang harus dikerjakan anak-anak diluar jam sekolah secara berkelompok, salah satu tujuannya adalah supaya siswa belajar untuk bekerja secara bersama-sama, melatih kerja sama antar siswa.
Photo by Štefan Štefančík on Unsplash
Semenjak anak-anak saya mendapat tugas tersebutpun saya mulai mengobservasi mereka, maluai dari berganti mata pelajaran hingga berganti anggota kelompok.
Pada awalnya saya mengikuti saja sambil mengamati apakah anak-anak sudah mengerti apa arti kerja secara berkelompok?
Apakah anak-anak sudah mengerti akan pembagian tugas dan waktu pengerjaan?
Apalagi dengan domisili yang tidak dalam berada satu area lingkungan tempat tinggal.
Apakah para orang tuapun mengontrol anaknya akan hal tsb?
Apakah para orang tua juga support akan hal tsb?
Apakah orang tua peduli akan tugas secara berkelompok dan mengajarkan anak-anaknya untuk bertanggung jawab?
Dan apakah gurunya pun sudah menjelaskan secara detail arti dan tujuan tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok?
Apakah gurunya sudah menjelaskan arti pembagian tugas dalam kerja berkelompok?
Hasil observasi saya dari anak anak saya, mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah pertama sekarang, hampir semuanya tugas yang dikerjakan secara berkelompok kacau, kalopun selesai pasti ada diantara mereka salah satunya yang berkorban baik dari waktu, biaya dan tenaga, kenapa?
Dari hasil pengamatan saya, karena saya selalu mengikuti hal tersebut mulai dari saat guru memberikan tugas, waktu dan tempat pengerjaan, sampai tugas itu selesai.
Entah guru yang tidak memberikan penjelasan detail kepada anak-anak atau memang anak-anak dianggap sudah mengerti akan kerja kelompok atau yang penting buat guru tugas tersebut selesai dengan hasil yang bagus dan tepat waktu, tanpa mereka tahu dan menilai cara kerja dan sistematika dari pengerjaan tugasnya.
Belum lagi kurangnya tanggung jawab dari masing-masing anak, contohnya: seringkali anak-anak dalam mengerjakan tugas dalam hal membuat janji tidak mengkonfirmasi kepada orang tuanya dari jauh jauh hari, mereka akan memberitahun pada saat-saat mau berangkat yang tentunya tidak semua orang tua bisa menyetujui atau memberi ijin anaknya pada saat itu juga. Ada yang memang sudah punya acara, ada yang memang tidak bisa mengantar karena lokasi jauh dari rumah, ada yang memang bahkan tidak perduli. Semua kendala itu pasti saya temui disetiap tugas kelompok anak anak.
Anak anak saya terbiasa selalu memberikan info kepada kami akan hal tersebut, apabila akan mengerjakan sesuatu ditempat lain mereka akan meminta persetujuan saya terlebih dahulu akan waktu dan tempatnya. Kalo saya sudah setuju barulah mereka akan menginfokan keteman-teman digroupnya.
Yang sering terjadi tidak demikian dengan anak lainnya, kalopun ada ya paling yang sifat orang tua dan anaknya sama seperti saya, segala sesuatu selalu dikomunikasikan dulu ke orang tuanya tapi perbandingannya tidak sepadan dengan yang tidak.
Ada lagi anak yang hanya ikutan meramaikan saja dalam membuat rencana, banyak bicara ini lah, itu lah, banyak memberikan masukan tapi pada saat diberikan tanggung jawab (karena dia yang memberi masukan) dia akan berusaha menghindar, intinya sih hanya ngomong aja bisanya.
Ada yang sifatnya ‘yang penting dateng’, masalah nanti tugas dibuat atau tidak, ya tidak perduli. Setelah datang beberapa lama kemudian dia akan pulang tanpa mau ikut bergabung menyelesaikannya.
Ada yang hanya diam, datang, duduk dan pulang.
Ada yang full tanggung jawab karena melihat banyak temannya yang sifatnya cuma datang atau cuma bicara sekali dua kali, dia lebih memilih mengerjakan sendiri daripada mengingatkan temannya lagi, karena buat dia percuma dan sia sia, toh yang diingatkan juga tidak perduli.
Ada yang seenak-enaknya bikin janji, sudah sepakat tapi pada saat hari H nya tidak datang dengan 1001 alasan, sampai ada yang lebih galakan dia dengan banyak alasan yang amat sangat jelas terlihat, kalo alasannya itu hanyalah dibuat buat.
Ada lagi yang apabila tugas kelompok nya harus membawa sesuatu, pada saat pembagian tugas tidak ada respon sama sekali walaupun sudah diingatkan, tetap saja tidak perduli, tapi pada saat hari H-nya dengan seenaknya merebut saja barang bawaan orang.
Hal tersebut selalu terjadi, belum lagi ulah orang tua yang sudah tau anaknya salah tapi malah anggota kelompok lain yang disalahkan dengan alasan katanya anaknya tidak dikonfirmasi soal tugas tersebut, padahal semua hal sudah dijelaskan didepan kelas oleh guru mata pelajarannya didepan semua siswa.
Photo by Tra Nguyen on Unsplash
Sejauh observasi saya, lebih banyak anak-anak yang seenak enaknya dibandingkan dengan anak yang memang niat untuk mengerjakan secara serius dan benar tugas tersebut, yang saya lihat dikarenakan beberapa faktor diantaranya adalah:
Anak tersebut memang kurang tanggung jawabnya, entah karena memang orang tuanya tidak mengajarkan tanggungjawab akan pentingnya tugas sekolah, atau memang orang tua menganggap tugas sekolah yang harus dikerjakan secara berkelompok itu tidak penting, atau mungkin juga anak tersebut memang malas.
Belum lagi pada saat di hari mengerjakan ada yang memang niat bekerja mengerjakan tugas tersebut dengan serius karena memperhitungkan waktu penyelesaian, dengan tujuan lebih cepat dikerjakan otomatis lebih cepat selesai dan lebih cepat untuk pulang.
Ada lagi anak yang amat suka mengejakan tugas kelompok tersebut memang dengan tujuan supaya bisa dapat ijin keluar rumah, tujuannya supaya bisa ‘main’ ke rumah temannya.
Ada lagi yang memang hanya makan saja atau mengobrol atau live di sosmed dengan bercanda bukan membantu temannya yang mengerjakan tugas tersebut dengan serius.
Ada lagi yang memaksa harus mengerjakan dirumahnya, tidak perduli kesepakatan bersama dengan alasan dia tidak diijinkan keluar rumah, atau ada juga yang karena alasan dia pulang sekolah naik jemputan jadi dia lebih senang temannya yang jadi korban karena dia takut ketinggalan jemputan, padahal tugas tersebut seharusnya dikerjakan diarea sekolah saja, instruksi gurunya pun dilanggar demi kepentingannya sendiri.
Ada lagi orang tua yang mengatakan “biarlah mom, anak anak memutuskan sendiri, belajar menyelesaikan masalahnya sendiri!”
Tapi disitu saya lihat tidak adanya bimbingan sehingga terjadi pembiaran tanpa batasan waktu pengerjaan dengan menuruti saja kemauan anaknya. Salah satu contohnya: selama beberapa hari setiap sepulang sekolah, ia pergi ke rumah temannya padahal jarak antara rumah temannya dan rumah anak tersebut amat sangat jauh, berhari hari tidak selesai dibiarkan dan diikuti saja oleh orang tuanya. Sedangkan keesokan harinya masih harus berangkat sekolah pagi-pagi, belum lagi ada tugas atau pe er dipelajaran yang lain, belum lagi kalo keesokan harinya ada tes di kelas.
Photo by Alexis Brown on Unsplash
Menurut saya, apakah hal demikian mengajarkan anak bertanggungjawab?
Apakah begitu caranya mengajarkan anak? Boleh seenak enaknya mengambil keputusan tanpa bimbingan?
Apakah diikuti saja anaknya cara tersebut?
Kalo hanya anaknya saja sih ya silahkan saja, lalu bagaimana dengan anak yang lain? yang memang waktunya sudah diatur sedemikian rupa setiap harinya supaya semua berjalan sesuai rencana dan bertanggungjawab.
Belum lagi ada orang tua yang seenak enaknya saja mengantar anak setelah acara dengan mereka selesai, padahal si anak sudah sepakat berkumpul pada jam tertentu, sehingga anak-anak yang lain harus menunggu anak tersebut, ini karena orang tuanya tidak perduli dengan anak yang lain sampai yang lain dikorbankan, karena ada orang tua yang memang tidak perduli kalo tugas kelompok anaknya menyangkut orang lain juga.
Dari semua hal diatas saya melihat tugas kelompok yang diberikan guru ke siswa, yang harus dikerjakan diluar jam sekolah, lebih banyak merugikan anak-anak yang memang memiliki tanggung jawab, merugikan para orang tua yang memang aware terhadap tugas sekolah anak.
Bisa saya ambil perumpaan begini:
“Dari 100 % waktu mengerjakan tugas kelompok, hanya 30 % yang benar benar digunakan untuk menyelesaikannya. 70 % sisanya banyak dilakukan buat makan, ngobrol, menunggu yang jam karet (terlambat dgn 1001 alasan), bercanda dan live di sosmed”
Dapat digambarkan juga “dari 5 orang anak, hanya 2 yang benar benar bertanggungjawab akan tugas dan penyelesaiannnya, sisanya yang 3 orang lagi hanya sebagai penggembira saja”
Photo by Allen Taylor on Unsplash
Jadi kesimpulan saya dari yang saya alami berdasarkan hasil observasi dan pengamatan saya, terhadap anak-anak saya akan tugas kelompok, amat sangat jauh dari efektif, karena merugikan anak yang memang memiliki tanggungjawab untuk tugas dan penyelesaiannya. Hal ini juga merugikan para orang tua yang memang aware terhadap tugas sekolah anak, yang memang men-support anaknya dalam pentingnya segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas sekolah.
Jadi….. Bagaimana dengan anak anda?
@agivetrilestari


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *