by AGIVE TRILESTARI

Perilaku yang mengundang bullying. But Always Say NO to BULLY!!

Perilaku yang mengundang bullying. But Always Say NO to BULLY!!
Bully dalam bentuk dan cara apapun itu salah dan tidak dibenarkan tapi ada lho moms anak yang karena perilaku dan tingkah lakunya membuat dirinya di ignore dan di bully oleh sekitarnya.
Beberapa tahun lalu saya sempat melakukan observasi terhadap anak yang mayoritas temannya tidak suka dengan dia.
Baik tidak suka oleh perilaku maupun verbalnya, bahkan bukan cuma temannya, gurunya pun merasa terganggu dengan perilaku anak tersebut karena Kalau sudah berulah bisa mengganggu kegiatan belajar mengajar dan mengganggu yang lain karena ulah anak tersebut.
Awalnya anak saya suka cerita sepulang sekolah,
“Bun, kenapa ya dia perilakunya begitu?
kenapa ya dia selalu maunya menang sendiri?
kenapa ya dia selalu tidak disukai oleh teman temannya?
kenapa dia tidak pernah bersikap menyenangkan?
kenapa ya dia kalau salah sendiri selalu marah marah dengan yang lain?
kenapa ya dia kalau tertinggal mengerjakan sesuatu selalu marah marah sehingga mengganggu anak yang lain?
kenapa ya dia kalau usil Suka seenaknya?
kenapa ya dia kalau ada yang balas bisa marah dan nangis gag jelas?
kenapa ya dia prilakunya tidak sopan?
kenapa ya dia tidak disukai guru?
karena gurunya pernah bilang ke anak anak dikelas, “ignore dia aja klo dia bertingkah yang menganggu, daripada fokus kalian terganggu”, terlihat sekali anak tersebut memang kalau kemauannya tidak tercapai atau tidak dituruti akan membuat onar dan berulah, sehingga sekitarnya pun otomatis tidak menyukainya dengan segala tingkah laku dan verbal anak tersebut.
Dan saya pun pernah merasakan semena-menanya anak tersebut.
Saya penyuka anak-anak, dengan anak-anak saya selalu nice dan manis.
Sekali waktu anak tersebut pernah membentak saya dengan memerintah supaya saya mengambilkan sepatunya, saya kaget dan saya saat itu juga menunjukkan ketidak sukaan saya terhadap anak tersebut dengan cara saya bilang “kamu tidak sopan, akan saya sampaikan perilaku kamu ini ke ibumu!”
Dan seketika anak tersebut langsung sekejap bersikap manis seakan akan membujuk saya supaya tidak mengadukan perilakunya ke orang tuanya.
Kenapa hal demikian bisa dilakukan anak tersebut yang pada saat itu usianya sekitar 9 sampai 10 tahun?
Kalau saya jadi orang tuanya saya merasa kasihan dengan anak tersebut karena pastinya tidak enak dan tidak nyaman kalau teman dan sekitarnya tidak suka dan dia di ignore.
Semua berawal dari didikan,bimbingan dan pola asuh orang tua di Rumah sehingga anak tersebut menjadi punya sikap dan perilaku seperti itu.
Saya coba cari tau, kebetulan saya mengenal ibunya, setiap kali saya bahas soal anak padahal bukan tentang anaknya dia selalu kelihatan egois, arogan dan dari situ saya tau dia termasuk sosok ibu yang tidak mau menerima masukan orang lain ataupun berusaha mencari tau, Entah itu dari buku atau apapun soal pola asuh anak yang baik, sosok si Ibu yang “saya Ibumu” atau “saya orang tuamu jadi harus dan selalu benar” mungkin dia berlakukan juga ke anaknya sehingga anaknya tidak bisa mengeluarkan pendapatnya karena tidak Ada kesempatan dan tidak diberikan kesempatan berpendapat di lingkungan rumahnya jadi anak merasa yakin dia tidak akan menang dengan ibunya maka pelampiasannya ya disekolah atau lingkungan yang lain dimana dia tahu ibunya tidak ada, disetiap pembicaraan yang membahas soal anak dia pasti selalu defend dengan alasan anak nya tersebut terlalu cepat usianya masuk sekolah jadi usianya paling muda dikelasnya.
Dan setiap ada masalah dengan anak tersebut orang tuanya selalu menyalahkan anak lain atau menyalahkan pihak sekolah.
contoh yang saya pernah tau dari Sikap si ibu  yang saya merasa aneh saat itu adalah:
suatu Hari anaknya terlambat sekolah dan anaknya menangis, saya tanyakan Kenapa?
ibunya menjawab habis saya cubitin karena salah sendiri bangunnya telat,
lalu saya bilang, sudah dibangunin sama Ibu? Ibunya menjawab “tidak, saya masih tidur”
saya langsung berfikir setau saya dia dirumah tidak ada orang lain, Hanya Ayah, ibu dan satu anaknya tersebut.
Buat saya diluar kewajaran umum kalau anak usia 8 tahun bangun kesiangan tapi ibunya pun belum bangun, lalu anaknya dimarahi dan dicubiti karena terlambat sekolah.
Dari situ saja terlihat kalau si ibu punya power dominan yang tidak mendidik tapi lebih kepada menyalahkan anak.
mungkin buat ibu terebut Hal demikian wajar berlaku dirumahnya, jadi buat dia itu sudah paling benar.
Tapi setau saya apakah kalau anak tersebut terlalu cepat masuk sekolah dan usianya paling muda dikelasnya temannya harus selalu mentolerir tingkah laku dia? atau selalu bisa menuruti semua kemauannya?
Hey… sekolah bukan rumah !!!
> Sekolah bukan dimana tempat ibunya selalu bisa mengatakan semua perbuatannya dibenarkan walaupun memang ternyata perbuatannya salah.
> Sekolah bukan tempat dimana salah satu anak bisa egois.
> Sekolah bukan tempat dimana semua orang bisa menerima status dia sebagai anak tunggal dan dia bisa semena-mena dengan anak yang lain.
Apakah didunia kerja atau lingkungan yang lain orang harus seumuran?
apakah ditempat dan lingkungan lain kalau yang paling muda bisa berbuat seenak enaknya?
Tentunya tidak kan !!!! Apakah kalau anak tunggal bisa berperilaku dan diperlakukan secara special?
Anak tersebut memang anak tunggal dan saya berusaha membandingkan dengan anak tunggal yang lain yang sikap dan perilakunya biasa, dan pada umumnya sih normal normal saja, disukai teman temannya dan tidak pernah berulah atau bersikap semena mena terhadap orang lain.
Saya lihat dari pola didik dan pola asuh yang amat sangat berbeda;
*Anak yang dididik, dilatih dan dibimbing dengan tingkat toleransi yang sangat besar mau berapapun sodaranya, bahkan anak tunggal sekalipun akan bisa lebih membawa diri dan menyesuaikan diri di lingkungannya.
*Anak yang dididik, dilatih dan dibimbing dengan kecerdasan emosional yang baik akan bisa menyesuaikan dimanapun dia berada.
*Anak yang diberikan teguran klo dia melakukan kesalahan akan lebih bisa menyesuaikan diri di lingkungan manapun.
Apapun kesalahan anak kita, sebagai orang tua harus bisa membimbing dan memberitahukan dengan cara yang bijaksana, BUKAN malah dibenarkan kesalahannya.
Yang saya lihat, anak semena-mena, seenaknya sendiri dan egois (salah satunya) adalah anak yang tidak pernah mendapatkan teguran ketika berbuat salah.
Dan ada yang kadang terlupakan oleh orang tua dirumah, yaitu memberlakukan kondisi bahwa orang tua itu selalu benar padahal hal tersebut seringkali tidak bisa diterima oleh anak.
Sebagai orang tua kalau pun kita salah ya biasakan meminta maaf walaupun kepada anaknya karena itu akan melatih anak untuk meminta maaf klo melakukan kesalahan, bukan egois dan membenarkan suatu kesalahan.
Semua pola asuh,bimbingan dan didikan harus dilakukan sejak dini dipersiapkan bukan hanya kecerdasan intelegensi tapi juga yang paling penting adalah kecerdasan emosional anak tersebut
Selain mencontohkan,membimbing dan kontroling sikap dan tingkah laku anak semua berawal dari rumah, dari orang tua.
Karena saya amat sangat setuju dengan kata kata “anak adalah cerminan orang tua”.
Apakah anda sebagai orang tua sudah membimbing, mengasuh dan mendidik anak anak menjadi anak yang cerdas? bukan hanya cerdas intelegensinya tapi juga cerdas emosinya?
Apakah anda sebagai orang tua sudah mendidik, membimbing dan mengasuh serta mencontohkan anak anda menjadi sosok yang menyenangkan, pandai dan cerdas membawa diri dimanapun dan dengan siapapun dia berinteraksi?
Yuk moms mulai belajar menjadi orang tua yang cerdas dan bijaksana  kepada anak anak kita supaya anak anak kita menjadi manusia berkualitas. semua diawali dari rumah, dari pola asuh, didikan, bimbingan dan kontroling orang tua. Supaya anak andapun cerdas dalam bersikap cerdas mengelola emosinya, cerdas kepada lingkungan sekitar, tidak egois sehingga bisa menjadi sosok yang menyenangkan dan jujur supaya terhindar dari bully.
@agivetrilestari


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *