by AGIVE TRILESTARI

Santun dan Sopan Tidak Harus dengan Cium Tangan

Santun dan Sopan Tidak Harus dengan Cium Tangan
Apakah kesantunan anak Anda hanya dilihat dari sikap manis dan cium tangan terhadap orang yang dia kenal dan lebih tua ???
Budaya mempengaruhi kita mengajarkan anak untuk santun terhadap orang lain.
Tapi sekarang banyak orang tua HANYA mengajarkan santun terhadap orang yang lebih tua, santun terhadap orang yang menurut ayah-ibunya harus dihormati, santun & sopan terhadap orang yang menguntungkan buat dia, dan sebagainya.
Orang tua sekarang banyak yang sudah tidak mengajarkan santun terhadap SEMUA ORANG. Siapa yang musti mereka hargai dan hormati sudah dipilah-pilah dulu oleh orang tuanya, semisal teman sebaya, orang seumur apalagi yang lebih kecil, yang pekerjaannya dianggap tidak setaraf dengan dia, misalnya satpam atau OB (office boy).
Banyak yang saya lihat juga, hal itu semata-mata jadi patokan anak tersebut atas tingkat kesopanannya.
Makanya saya coba melakukan observasi sendiri, kasimpulannya adalah anak sekarang itu lebih smart, lebih pintar dari orang tuanya (makannya jangan pernah jadi orang tua yg “dipintari” oleh anaknya) – hal ini akan saya bahas khusus ditulisan selanjutnyaūüėĀ
Anak sekarang banyak yang pintar acting dalam kesehariannya.
Kenapa mereka pintar acting?
  • Banyak anak yang amat sangat pintar mengkondisikan cara bersikap, dengan siapa dia bersikap dan memiliki tujuan tertentu, tentunya yang akan membuat anak tersebut dalam posisi aman menurut dia, semisal supaya gag dimarahi dll.
  • Acting akan disesuaikan dengan siapa anak tersebut berinteraksi;
Apakah orang tersebut kenal dengan orang tuanya?, seperti dengan teman ayah/ibunya
Dan dengan gurunya.
Dari hasil observasi saya, anak sekarang akan bersikap santun dan super manis dengan orang yang menurut mereka sekiranya akan bawa pengaruh baik buat dirinya sendiri.
Contoh:
  • Dengan teman orang tuanya; jangan sampai tidak santun karena menurut anak tersebut kalo tidak santun bisa bahaya, nanti akan diadukan ke orang tuanya.
  • Dengan guru; karena kalo tidak santun akan tau sendiri akibatnya dan akan lebih banyak ruginya lagi.
Tapi tidak dengan satpam or OB, walaupun mereka lebih tua dari anak, mereka paham bahwa sepertinya orang-orang tersebut tidak menguntungkan buat mereka.
Anak sekarang itu kelihatan banget, kalo buat mereka menguntungkan ya pasti mereka akan santun dan super manis…
Entah si orang tua yang memang mengajarkan demikian atau entah memang anak tersebut yang memang sudah punya dasar demikian.
Seringkali patokan akan santun adalah mencium tangan seseorang yang dia temui, apalagi orang yang sudah dikenal.
Seringkali orang tua mengucapkan “ayo salim!” keanaknya apabila dia bertemu dengan seseorang.
Kebetulan saya tidak mengajarkan anak saya cium tangan kepada semua orang (buat saya lebih karena untuk alasan higienitas, bukan masalah cium tangan itu patokan dari kesantunan seseorang).
Photo by jesse orrico on Unsplash
Anak saya hanya saya ajarkan hanya boleh cium tangan dengan ayah bundanya dan kakek neneknya, lain dari itu cukup berjabat tangan.
Banyak yang tidak setuju dengan hal tersebut, tapi saya sebagai orang tua punya hak & alasannya.
Seringkali anak saya dikatakan tidak santun dan tidak sopan cuma karena hal tersebut.
Buat saya sih konyol, kenapa? sudah saya tuliskan diatas bahwa saya mengajarkan cara bersikap kepada semua orang tanpa dipilah dari umur, siapapun orang tersebut, menguntungkan kita atau tidak, anak saya wajib santun dan sopan terhadap siapapun. Bukan berpatokan dengan hanya cium tangan tapi juga cara bicara, kesopanan cara bersikap, cara memperlakukan orang lain dll.
Dari observasi saya banyak sekali anak yang bisa mengkondisikan keadaan dan dengan siapa hal tersebut dilakukan.
Ada observasi saya terhadap salah satu anak yang menurut saya sikap, bahasa & perilakunya serta cara bicaranya amat sangat jauh dari seorng anak yang disekolahkan disekolah tersebut & kalo melihat orang tuanya mungkin orang tidak percaya akan perilakunya.
Tapi saya tahu bagamana anak tersebut bersikap diluar sepengetahuan orang tuanya.
Itu tandanya anak sudah paham dimana dan bagaimana orang tuanya bisa tau maka ia akan berperilaku beda.
Yang membuat saya lebih ingin mengobservasinya adalah…
Kenapa musti beda? Bukankan kalo memang ditanamkan orang tuanya tentang santun dan kesopanan terhadap orang lain, kemanapun & dengan siapapun mestinya akan tetap sama?
Kalo buat saya, itu karena kembali lagi pada apa yang sudah ditanamkan, atau saking “cerdasnya” si anak atau memang orang tua hanya cuma kasih tau bahwa ‘sopan tuh begini’ atau ‘sopan tuh begitu’ atau ‘yang sopan tuh dengan si -anu ya!’
Bukan benar-benar ditanamkan dari kecil dan diberikan contoh dalam kesehariannya.
Beberapa kali saya ngobrol dengan orang yang mempunyai profesi sebagai guru, mereka mengatakan “Bu, anak itu ucapan & perilakunya melebihi usianya!”
“Bu, anak itu pandai bicara dan pandai bersikap sesuai ‘sikon’ yang ada, yang menurut dia bisa aman & menguntungkan buat dirinya, walaupun saya tau dia bohong bu!”
Dari sini sebenarnya terlihat ada yang salah dengan anak tersebut.
gambar dari solopos.com
Ada lagi orang tua yang menyekolahkan anaknya disekolah yang berbasis agama, alasannya simple, katanya supaya apa yang tidak bisa diajarkan dirumah bisa dia dapatkan disana, seperti ahlak, sopan santun dll (saya jadi ingat perkataan salah seorang psikolog terkenal “orang tua jaman sekarang itu lebih senang men-subkontrakkan urusan agama, ahlak dan hal lainnya yg baik kesekolah atau tempat lain daripada orang tuanya sendiri yang menanamkannya).
Saya pribadi heran, bukankah semua berawal dari rumah?
Bukankah semua berawal dari orang tua?
Seperti didikan, bimbingan, ajaran dll (karena saya diajarkan orang tua saya bahwa semua perilaku, sikap dan anak diluar itu cermin dari rumah dan juga cerminan dari orang tuanya).
Makanya saya percaya betul dengan kata kata “ANAK itu ya bagaimana ORANG TUAnya, anak itu ya CERMINAN dari orang tuanya!”
Mau dimana pun, mau berapapun usianya, anak adalah cerminan orang tua!
Mau dimana pun dia sekolah, mau dengan siapapun dia bertemu, ya sikap dan perilaku anak ya cerminan orang tuanya.
Jadi saya suka bingung, ada orang tua yang bilang “padahal saya udah ngajarin baik, padahal dirumah gag gitu kok, padahal setahu saya gag begitu kok, dll”
Dari situ aja kita bisa lihat kemana orang tuanya, bagaimana orang tuanya, sampai bingung sendiri kok perilaku anaknya bisa beda banget?
Apakah pengaruh orang terdekat? atau apakah pengaruh lingkungan?
Ada lagi sikap orang tua yang kalo dikasih info bagus dan baik penerimaannya bukannya coba dipelajari atau bukannya dicari tahu kebenarannya, tapi sudah langsung menolak. Salah satunya degnan kata-kata “yah namanya juga anak anak!” atau ada juga yang bilang “gag ada manusia yang sempurna!”
¬†atau “yah sabar aja deh… dia ngomong begitu nanti Allah yg balas!”
HELLOOOO……. dari situ saja terlihat kualitas orang tua tsb.¬† Jadi gag aneh kalo hasil dari produk orang tua seperti itu ya.. begitu!
Buat saya tidak ada kata istilah “namanya juga anak anak!” karena nanti akan timbul semua pemakluman dan semua pembenaran akan kesalahan anak. Justru masih anak-anaklah kita sebagai orang tua harus menanamkan, mendidik dan mengajarkan anak semua yang benar. Memberitahukan segala sesuatu yang benar, kalo ada salah ya ditegur dan dikoreksi supaya anak mengerti dan tertanam didalam diri anak tersebut akan hal-hal yang baik.
Salah satu contoh ‘kesalahan’ orang tua yang paling populer dan masih dipraktekkan hingga hari ini adalah seperti ini:
Si anak bermain sambil berlarian dalam rumah lalu tersandung atau terantuk meja (atau bisa benda lainnya), dia jatuh dan mulai meringis karena kesakitan. Si orang tua datang dan MEMUKUL MEJA sambil berkata.. “nakal nih meja… nakal! Dah jangan nangis ya.. mejanya dah ibu pukul”
Coba dipikir… ITU MEJA SALAH APA??? Meja itu dari kemarin diam gak kemana-mana dan gak bergerak disitu aja! Apakah meja itu bisa ‘dengan sengaja’ menjulurkan kakinya agar si anak terjatuh? Atau mungkin si meja dendam karena tidak diajak bermain? Kelihatannya sepele, tapi awas…! Ini punya efek jangka panjang. Anak akan menganggap bahwa ketika terjadi sesuatu yang merugikan dirinya (atau apapun hal yang tidak mengenakkan) maka yang harus dilakukan adalah SALAHKAN ORANG LAIN!
Faktanya: anak itu sibuk dan asyik bermain sehingga tidak memperhatikan lingkungannya, karena meleng ia tersandung meja dan jatuh. Jika seandainya dia berhati-hati maka seharusnya dia tidak akan tersandung dan jatuh. Dalam hal ini orang tua tahu faktanya tapi lebih fokus pada ‘jangan nangis’ daripada ‘hati-hati’.
Ketika anak memasuki usia remaja, daya godanya amat sangat dahsyat. Mulai dari pengaruh lingkungan sosialnya, teknologi maupun dari luaran lainnya. Makanya kita sebagai orang tuanya lah yang harus controlling. Salah satu caranya ya menanamkan semua aturan yang baik ke anak, caranya bukan hanya dikasih tahu tapi dicontohkan serta kasih tahu juga efeknya bagaimana.
Selain mendidik, menanamkan, mengkoreksi, mencontohkan dan kontroling, yang paling amat sangat penting adalah komunikasi.
Seringkali saya dengar anak anak hanya akan memberitahukan cerita yang baik baik saja ke orang tuanya, padahal hal yang gag baik lebih banyak. Kenapa dia tidak ceritakan ke orang tuanya ya itu tadi saya bilang, anak akan mencari cara aman dengan alasan supaya orang tuanya tdk tahu, supaya tidak kena marah dll.
Jangan sampai kita mendengar tentang anak kita justru dari orang lain, sebaiknya kita mendengar segala sesuatu tentang anak kita dan orang disekitar anak kita dari anak kita sendiri, bahkan dengan tanpa perlu bertanya mereka akan cerita semuanya kekita, itulah pentingnya komunikasi dengan anak.
Dengan begitu kita akan tahu semua yang anak kita alami, kita akan tahu tentang sekitaran anak kita tanpa kita perlu ada disitu, meskipun sesekali waktu perlu dan tidak ada salahnya kita crosscheck juga.
Mulai dan biasakan ada sesi sharing time di rumah bersama anak anak.
Itu yang saya latih dan saya tanamkan terus sampai saat ini ke anak  anak saya. Bukan cuma cerita yang bagus-bagus tapi semuanya, entah dia ada salah atau apapun itu, ajarkan anak jujur akan dirinya.
Mulai lah membuat dan mengkondisikan segala sesuatu yang baik dengan anak-anak dengan tujuan supaya kita memiliki anak-anak yang santun, sopan dan berkualitas, baik buat dirinya sendiri, orang tua atau orang sekitarnya. Dimulai dari orng tua, dimulai dari rumah segala sesuatu yang baik.
Jadikan anak kita sebagai anak yang cerdas dan jujur menyikapi situasi dan kondisi sekitarnya dengan siapapun dan dimanapun. Diajarkan, dididik, ditanamkan serta dikontrol orang tuanya dari rumah, bukan cuma dengan hanya sekedar santun dan sopan yang hanya berpatokan pada cium tangan saja tapi diperlihatkan dari verbal, sikap dan perilaku.
Saya yakin pasti setiap keluarga memiliki kebiasaan dan norma yang berlaku dalam keluarganya dengan tujuan yang baik, tetapi tetaplah selalu waspada, aware terhadap pengaruh lingkungan yang sangat besar dalam memberikan pengaruh ke anak-anak kita.
@agivetrilestari


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *